Donasi Untuk Korban Bencana

Donasi Untuk Korban Bencana

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

  Mau Tanya ustadz, sebagai mustahiq zakat, korban banjir termasuk dalam kategori ashnaf apa? Dan bagi donator, apakah afdhalnya menyalurkan langsung atau melalui lembaga? Dan yang disalurkan dana tunai atau barang? Apa dasar Fikihnya? Mohon penjelasannya.

Hamba Allah

  Wa’alaimussalam Wr.Wb.

  Donasi social (zakat maal) untuk korban bencana itu dibolehkan, bahkan diprioritaskan untuk korban banjir, karena korban banjir termasuk kategori fakir, miskin, atau ibnu sabil. Bahkan beberapa korban lebih darurat kebutuhannya dari fakir miskin. Juga karena karakter zakat maal itu distribusikan untuk kebutuhan mendesak.

  Pertama, pertanyaan tentang korban banjir itu kategori mustahiq apa, itu jika sumber donasinya adalah infak/sedekah, maka peruntukkannya lebih luas, termasuk mereka yang membutuhkan; walaupun belum memenuhi kriteria fakir miskin.

  Kedua, jika ditelaah, pada umumnya korban banjir itu orang-orang yang membutuhkan bantuan darurat, di antara mereka mungkinn termasuk kategori fakir miskin atau ibnu sabil.

  Fakir miskin (dhuafa) adalah orang yang tidak memiliki pencaharian atau memiliki tetapi tidak mencakupi kebutuhan-kebutuhan primer dan sekundernya.

  Berdasarkan pengertian tersebut, maka sangat memungkinkan para korban banjir itu termasuk dalam katagori fakir dan miskin. Karena kehilangan aset yang mereka miliki atau karenanya mereka memiliki hutang untuk memenuhi hajat-hajat asasinya termasuk rumah dan sejenisnya.

 Ibnu sabil adalah orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan untuk melaksanakan perbuatan taat, bukan untuk maksiat, yang diperkirakan tidak mencapai tujuannya jika tidak mendapatkan bantuan dana zakat.

  Sebagian ulama kontemporer, seperti Syekh ath-Thibathaba’I (Kuwait) dan Syekh Ali al-Qurrah Daghi (Qatar) menjelaskan bahwa bagian makna Ibnu sabil adalah korban bencana alam sehingga harus mengungsi dari tempat tinggalnya dalam kondisi dan fasilitas akadarnya. Berdasrkan makna tersebut, korban banjir termasuk dalam kategorikan Ibnu Sabil dan berhak mendapatkan donasi zakat mal.

  Bahkan berzakat dan bersedekah serta menyalurkannya untuk korban banjir itu termasuk kebutuhan yang penting dan mendesak (dharuriyat/hajiyat).

  Ketiga, dalam fikih, donator boleh menyalurkan zakatnya dalam bentuk uang atau sejenis aset wajib zakatnya atau jenis lain sesuai kebutuhan mustahiq (penerima manfaat) senilai tariff wajib zakatnya.

  Misalnya, pemilik emas senilai 100 gram emas, bisa menunaikan zakatnya sebesar 2,5% dalam bentuk yang tunai, emas senilai tarif wajib zakat, atau barang/jasa lain senilai tarif wajib zakat.

  Menurut mazhab Ahnaf, yang menjadi dasar rujukan adalah pilihan yang memudahkan dan memenuhi hajat mustahiq. Sebagaimana kaidah:

  ‘’Bermanfaat untuk para dhuafa dan maslahat untuk para hartawan (anfa’ lilfuqara wa aslah lilagniya).’’

  Menurut mazhab Ahna

  Keempat, menurut skala prioritas, berzakat melalui lembaga zakat yang amanah dan professional untuk disalurkan kepada mustahik agar donasi yang terbatas ini bisa diterima pihak dhuafa yang paling membutuhkan. Karena faktanya, nash dan sirah memerintahkan setiap donasi dikelola oleh amil (petugas atau lembaga yang mengelola) zakat.

  Hal yang sama ditegaskan oleh Rasulullah Saw. Dalam hadisnya:

  ‘’…Beritahukah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk (mengambil) sedekah (zakat) dari harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya dan disalurkan untuk orang-orang fakir…..’’

HR. Jama’ah

  Bahwa yang menghimpun, mengelola dan menyalurkan zakat adalah petugas khusus (amil), bukan setiap orang, agar pengelolaan zakat ini professional, amanah, tepat sasaran, dan agar zakat bisa menyelesaikan masalah-masalah yang darurat dan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Dari aspek fikih aulawiyah dan muwazanah (fikih prioritas), jumlah donasi terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah dhuafa.  Di samping itu, jumlah donasi yang terhimpun terbatas, sedangkan jumlah dhuafa yang kritis jatuh jauh lebih banyak. Oleh karena itu, donasi yang terbatas ini harus tepat sasaran agar tidak menelantarkan pihak dhuafa yang lebih kritis kebutuhannya. Pihak yang lebih tahu dan paham daftar mustahik yang paling kritis dan membutuhkan adalah lembaga zakat yang amanah dan professional. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

 

Assalamualaikum !

Apakah ada yang ingin ditanyakan terkait Baitul Maal Pupuk Kujang pada link https://lazbmpk.com/2022/12/31/donasi-untuk-korban-bencana

×